
Saya sering lihat orang yang hobi mengkritik. Pemimpin salah sedikit langsung digoreng. Tapi begitu orang yang sama dikasih kesempatan memimpin, hasilnya sering lebih parah. Yang dulu vokal, sekarang sibuk klarifikasi. Yang dulu kritis, sekarang sensitif. Yang dulu galak ke korupsi, sekarang sibuk cari pembenaran.
Dan kalau saya yang dikasih kesempatan juga? Jujur saja, besar kemungkinan saya juga korupsi. Korupsi itu kan nggak selalu soal uang. Bisa juga korupsi waktu: janji jam segini, datang jam segitu. Korupsi perhatian misalnya, lagi rapat tapi pikiran ke mana-mana. Korupsi relasi, milih orang bukan karena kompeten, tapi karena “dekat”. Bahkan korupsi keputusan, seperti mengambil yang paling aman buat diri sendiri, bukan yang paling benar.
Ngasih duit ke orang biar nurut juga bentuk korupsi. Bukan hanya pake amplop, tapi pakai sungkan, pakai rasa nggak enakan, pake kalimat sakti, “tolonglah, kan kita temenan.” Kelihatannya halus, tapi tetap saja nyogok versi sopan.
Kemelekatan ke pasangan saja bisa jadi bibit korupsi. Demi jaga hubungan, kebenaran dikorbankan. Demi gak ribut, prinsip dilipet dulu. Bucin atau budak cinta juga sama. Demi satu orang, keputusan jadi bias. Logika dikalahkan perasaan. Dan kita sering menyebutnya bukan korupsi, tapi “demi cinta”.
Belum lagi pencitraan. Ini favorit pake banget. Semua sisi gelap disemprot parfum biar wangi. Salah dikit ditutup narasi. Motif disulap jadi niat baik. Padahal yang dikorupsi itu kejujuran.
Jadi memang benar, pemimpin itu harus bebas dari sisi gelap. Soalnya kalau sisi gelap masih numpuk tapi sudah pegang kuasa, ya rawan. Bukan cuma rawan korupsi duit, tapi juga korupsi keputusan, waktu, dan keberanian buat jujur.
Contoh receh kayak saya. Motor udah bunyi aneh, tapi tetap dipaksa jalan. “Masih kuat ini.” Sampai akhirnya mogok di tengah jalan. Terus menyalahkan bengkel, menyalahkan bensin, menyalahkan nasib, bahkan menyalahkan Semesta. Padahal sisi gelapnya jelas, malas mengurus, ingin instan, ingin nyaman.
Atau urusan WA. Pesan masuk, dibaca, tapi gak dibales. Alasannya, “Nanti saja.” Padahal masih sempat buka story, like postingan orang, bahkan update status. Ini juga sisi gelap. Gak gede, tapi licin. Pengen enak sendiri tanpa kelihatan gak enak.
Pas ngaca dikit, ternyata saya sendiri masih sering begitu. Niatnya produktif, eh malah sibuk kelihatan sibuk. Niatnya beresin, eh malah cari jalan pintas. Kalau sisi gelap receh saja masih sering dilakuin, gimana ceritanya mau pegang tanggung jawab yang lebih gede?
Jadi sebelum mimpi jadi pemimpin, yang perlu diberesin itu justru hal-hal receh. Saya harus berani ngaca. Lihat sisi gelap sendiri tanpa pembelaan. Jujur sama kebiasaan sendiri, bukan versi indah yang pengen dilihat orang. Karena integritas itu soal konsisten atau gaknya kita pas gak ada yang mengawasi.
Di titik ini saya juga tanya ke diri sendiri, “Kalau saya jadi pemimpin, apa saya bisa benar-benar berintegritas?” Atau saya cuma bakal ganti bentuk sisi gelapnya biar kelihatan lebih rapi dan profesional?
Dengan sisi gelap segini saja, kalau saya nekat jadi pemimpin, potensi korupsinya gede. Mungkin bukan uang, tapi keputusan. Milih yang aman buat diri sendiri. Milih yang gak ribet. Milih yang bikin saya tetap kelihatan baik.
Jadi kalau saya mau jadi pemimpin yang bener, semuanya harus dimulai dari keberanian buat ngaca, jujur, dan beresin sisi gelap. Yang kecil-kecil dulu. Tiap hari. Dan seringnya… gak ada yang lihat.
Theo Roberto
Peserta Kelas Unlock your Sigma Potential (USP) 1


